Ekonomi Kereta Api – JawaPos, 8 April 2013

Beberapa hari ini Bloomberg memberitakan, sebuah operator MRT di Thailand berhasil melakukan IPO terbesar di dunia, Rp 19 Trilyun. Padahal perusahaan itu baru berdiri pasca krismon: 1999. Bandingkan dengan kereta api Indonesia yang pembangunan relnya sudah ada sejak tahun 1864. PT KAI sendiri sudah ada sejak tahun kemerdekaan, dan tahun ini berusia 68 tahun.

Berita-berita mengenai kereta api selalu menarik perhatian, meski kereta bukan lagi menjadi pilihan utama transportasi publik. Tetapi perhatikanlah, sebuah titik balik tengah terjadi. Kelak masyarakat akan beralih dari mobil, bahkan pesawat terbang kepada kereta api. Tetapi ada syaratnya: hentikan kebisingan dan biarkan PT KAI meremajakan diri.

Jakarta – Surabaya  

Untuk berpergian ke Surabaya mengunakan kereta api Gaya Baru Malam saja, saat ini masih membutuhkan 14 jam lebih. Bandingkan dengan pesawat terbang yang paling lama 1 jam 15 menit. Tetapi sebelum beberapa jalur ganda dibangun, jarak tempuhnya lebih lama lagi: 17,5 jam! itu sebabnya, saat low cost carrier merebak di Indonesia penumpang beralih ke pesawat terbang.

Demikian juga jalur Jakarta-Bandung, yang dulu terkenal dengan kerata api Parahyangan (Sekarang Argo Parahyangan) ditempuh 2,5 – 3 jam. Saat jalan tol Jakarta – Cipularang – Bandung dibuka, masyarakat bisa menempuh jarak dalam tempo 2 jam dengan mobil. Tetapi itu dulu.  Sekarang jarak tempuhnya sudah “kembali normal” seperti jalan biasa lewat puncak: 4 jam. Apalagi bila hari jumat atau tanggal muda dan hari hujan. Di dalam kota macet, menuju perbatasan macet dan masuk Bandung  juga macet.

Kereta api yang “bebas hambatan” sebenarnya bisa menjadi solusi. Wamen Perhubungan Bambang Susantono menyebutkan Indonesia akan punya kereta api cepat Jakarta-Surabaya yang bisa ditempuh hanya dalam 3 jam. Kalau ini terjadi, saya tentu akan lebih senang naik kereta api dari pada pesawat. Bayangkan, dari kantor menuju bandara Cengkareng butuh sekitar 2 jam, check in 1 jam sebelum keberangkatan, dan pesawat sering terlambat take off sekitar 30 menit – 1 jam. Total saya perlu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke Surabaya dengan biaya berkali-kali lipat tarif kereta api.

Saya jadi teringat perjalanan sahabat saya di Taiwan yang setiap 3 hari sekali harus berobat ke sebuah rumah sakit. Ia tinggal di Taipeh dan rumah sakit terletak sekitar 800 km dari Taipeh. Persis seperti Jakarta – Surabaya. Ia bisa menempuh jarak hanya 1,5 – 2 jam saja. Keretanya nyaman, tak ada goncangan, aman,  bersih dan indah. Tak ada pedagangan asongan atau preman.

Lantas mengapa kereta api kita dibiarkan merana? Tentu saja ada banyak masalah yang selama bertahun – tahun kita abaikan. Untuk memiliki kereta api cepat Indonesia perlu mengubah cara pandangnya. Ya, kita perlu investasi-investasi besar yang baru, persis seperti saat Soeharto menanam investasi-investasi besar di Sumatra. Kita tidak bisa hidup dalam cara-cara lama dangan tarif super murah yang tidak nyaman. Dengan kondisi yang lama, kemenhub mengumumkan ada 5200 perlintasan kereta api, dengan 618 diantaranya perlintasan liar. Tetapi survey PT KAI sendiri menemukan ada lebih dari 10.000 perlintasan liar. Ini tentu sangat menghambat.

Sebagian besar lintasan liar itu bukan sekedar menjebol pagar, melainkan sengaja diurug sisi tengah relnya dengan tanah, pasir dan krikil. Tentu saja ada yang memungut uang sewanya. Akibatnya, gerakan kereta menjadi lamban dan kereta harus membunyikan klaksonnya. Karena jaraknya dengan pemukiman liar dan penduduk sangat rapat, suara klakson itu dianggap mengganggu, sehingga disambut dengan batu oleh pemukim.  Bukan hal yang aneh kala kaca-kaca kereta api sering retak dan pecah. Harap maklum, setiap hari PT KAI harus mengganti sekitar 5 buah kaca yang harganya berkisar Rp. 300 ribu hingga satu setengah juta rupiah. Semua sangat mengganggu kecepatan kereta api dan kenyamanan penumpang.

Tampaknya kita memang masih jauh dari Thailand yang sudah lebih dulu membangun MRT.  Bahkan sangat jauh dengan kereta-kereta super cepat.  Kalau dulu Shinkansen saja sudah kita anggap tercepat dengan 440 km per jam, kini China Railway sudah mengantarkan penumpang dengan kecepatan 480 km per jam.  Kita masih bergerak seperdelapan dari batas kecematan maksimum yang sudah bisa dicapai kereta api tercepat.  Artinya, kalau masyarakatnya seperti ini kita masih perlu 40 tahun dari sekarang dan akan tertinggal terus.

Bukan hanya itu, sekarang gangguan juga datang dari sejumlah pengamat dan orang-orang pandai yang mencari perhatian di media massa.  Saat pelayanan diperbaiki, otomatis habit harus diubah, tetapi ini tidak mudah.  Artinya, kalau menuntut perubahan,mbok ya kita juga berubah beramai-ramai, jangan cuma omong saja mau berubah. Mana ada sih perubahan tanpa ada yang mau berkorban?

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Sebarkan!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *