Persoalan Tata Kelola – Sindo 22 September 2011

Mungkin, tak ada jargon manajemen lain yang lebih penting di awal abad 21 ini selain Tata Kelola atau Good Governance.  itulah yang menimbulkan kekisruhan kala para pembuat kebijakan mengabaikan hubungan antara orang yang dipercaya bekerja dengan yang mengawasinya, dan orang-orang yang memangku amanah menyelewengkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Kekisruhan yang berlarut-larut di Universitas Indonesia adalah masalah governance.  Penyelewengan yang dilakukan para politisi dalam soal \”banggar\” juga merupakan masalah governance. Bahkan celotak-celoteh di seputar pemilihan komisioner apapun di DPR sarat dengan masalah governance.  Demikian pula kemarin, dalam sebuah diskusi yang dilakukan oleh Asosiasi Media Luar Ruang, hal yang banyak disorot juga masalah Tata Kelola.

Governance menyangkut persoalan yang sangat luas, mulai dari pestisida sampai buku sekolah, dari billboard sampai pemakaian anggaran di kantor kelurahan.  Akibat tata kelola yang buruk sangat luas, mulai dari kesemrawutan tata ruang, sampai korupsi.  Yang jelas di sana ada persoalan kekuasaan dan korupsi.  Bank Dunia bahkan mempercayai, kenaikan satu persen GDP di negara berkembang yang didukung oleh tata kelola yang baik akan menimbulkan dampak turunnya kemiskinan sebesar satu persen.

Sekarang bayangkan saja apa yang terjadi di negeri ini saat GDP nya mengalami kenaikan yang sangat progresif.  Bukannya kemiskinan juga ikut turun secara progresif, melainkan korupsinya yang naik secara signifikan.  Pelakunya semakin banyak, bergerombol saling melindungi, masuk ke ranah-ranah yang sangat sulit untuk dibersihkan, bersuara semakin lantang, dan jumlah uang yang dicuripun semakin menggila.  Semua itu terjadi karena banyak proses pengambilan keputusan di negeri ini sangat mengabaikan tata kelola.  Tata kelola yang buruk hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang buta hati, rakus dalam segala hal, dan bertendensi merusak tata kelola lainnya.  Tata kelola yang buruk di satu instansi adalah sama dengan apel busuk yang ada di sebuah keranjang, yang akan membuat apel-apel lainnya ikut membusuk.

Delapan Karakter
Ternyata, meski Tata Kelola sudah menjadi jargon yang sangat populer, hanya sedikit saja orang yang benar-benar memahaminya.  Dan orang yang memahaminya belum tentu memiliki kesungguhan untuk menjalankannya.  Tata Kelola misalnya telah menjadi bacaan wajib bagi para komisaris dan direksi BUMN, namun karena  latar belakang dan masuknya para direksi dan komisaris sangat beragam dan niat untuk menjadi pemangku jabatan sangat bervariasi, tata kelola bisa saja hanya tinggal menjadi pengetahuan belaka.

Namun dibalik suksesnya sebuah BUMN hampir selalu dapat dipastikan ada proses pengambilan keputusan atau tata kelola yang baik.  Itulah sebabnya eksekutif BUMN yang baik selalu memilih langkah go public untuk mengamankan masa depan perusahaannya.  Sebaliknya, politisi yang ingin tetap mempertahankan jalurnya untuk mendapatkan akses pada tender-tender penting di BUMN justru menginginkan agar perusahaan tidak melakukan go public.

Tata kelola bukanlah ilmu yang penting dipahami saat suatu bangsa dikuasai oleh pemimpin otoriter.  Justru ia menjadi momok bagi otokrasi yang sarat dengan kepentingan yang korup.  Namun begitu suatu bangsa memasuki era demokrasi, tak pelak lagi tata kelola menjadi penentu apakah bangsa itu mampu mensejahterakan bangsanya, memenangkan persaingan dan memberikan harapan dari kemenangan demi kemenangan.  Dalam kolom ini saya sengaja bicara yang tingan-ringan saja untuk mengedukasi masyarakat awam yang masih sering bertanya apa sih yang dimaksud good governance?  Sekaligus mengajak anda yang berada di sentra-sentra kekuasaan agar memeriksa batin secara sungguh-sungguh apakah benar atasan dan unit kerja saya sudah good governance?

Ketidakhadiran tata kelola dengan mudah  dapat dibaca dari sejumlah indikator seperti macetnya pengembangan infrastruktur,  kekalahan demi kekalahan dalam berbagai kompetisi olahraga, buruknya keselamatan, meningkatnya rasa ketidakadilan, rendahnya pemasukan negara dari pajak dan penghasilan bukan pajak, semrawutnya perparkiran dan kejanggalan-kejanggalan lainnya.

Dalam sebuah institusi, buruknya tatakelola akan tampak dari gejala korupsi, pengambilan keputusan yang tidak didukung secara luas di dalam institusi, penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang, penggunaan anggaran secara tidak transparan, dan  gagalnya lembaga itu melahirkan pemimpin yang hebat-hebat sebagai pengelola kegiatan.  Lembaga akan dikuasai orang-orang yang tidak punya integritas, mudah \”dibeli\”, buta hati, dan sarat dengan kebohongan.  Bahkan dalam perusahaan keluarga sekalipun, ketidakhadiran tata kelola yang baik bisa berakibat pertumpahan darah, perebutan warisan secara tidak manusiawi, dan memburuknya kinerja perusahaan.

Oleh karena itu saya berpikir sebaiknya masyarakat luas, rakyat biasa dan para karyawan, dosen dan mahasiswa, atau profesi apapun baiknya juga memahami tata kelola dengan baik.  Dengan demikian, bila terjadi penyimpangan, masyarakat dengan cepat dapat melakukan pencegahan sedini mungkin.  Sebab tata kelola adalah proses pengambilan suatu keputusan yang berdampak luas dan bagaimana  keputusan itu dijalankan.

Menurut Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik, setidaknya ada delapan karakter yang mencerminkan hadirnya Good Governance.  Kedelapan karakter itu adalah partisipasi, konsensus, akuntabel atau pertanggungjawaban, transparansi, responsif, efektif dan efisien, persamaan hak dan inklusif, dan taat hukum.

Jadi kalau atasan Anda bisa mengambil keputusan tanpa konsultasi pada siapapun, bahkan tidak mau mempertanggungjawabkan dampak dari keputusan yang dia ambil, maka periksa kembali semua proses pengambilan keputusan yang dijalankan.  Jangan-jangan bukan hanya itu yang mereka lakukan.  Bisa saja seseorang mengklaim laporan keuangannya telah diaudit dan tak diketemukan masalah.  Namun tanyakanlah kembali, apakah tidak ada yang disembunyikan pada bagian-bagian yang tidak tampak?  Periksa kembali apakah alokasi anggaran telah dilakukan secara adil?  Pemimpin yang \”good governance\” adalah pemimpin yang terbuka, tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kenikmatan peribadinya.

Pengambilan keputusan yang baik itu tentu memerlukan sejumlah syarat yang bebas dari kepentingan-kepentingan yang dapat merugikan institusi maupun masyarakat.

Integritas Batu Ujian
Namun pada akhirnya, good governance hanya akan berjalan dengan baik bila suatu institusi berhasil membangun sistem untuk  mendapatkan pemimpin yang terbaik.  Pemimpin yang terbaik hanya bisa didapatkan bila institusi itu dikuasai orang-orang yang memiliki kehendak yang  baik.  Sebab merekalah yang akan memilih.  Kalau pada awalnya orang-orang yang memilih lebih memikirkan dirinya sendiri, maka mereka hanya akan mengangkat orang-orang yang dapat diatur, bukan orang yang bersedia mendengarkan \”suara Tuhan\”.  \”Suara Tuhan\” itu hanya akan didengar kalau manusia mau membuka mata, melihat realita, dengan pikiran yang bersih.

Lama saya merenungi benarkah good governance mampu mengatasi segala hal yang karut marut  dewasa ini?  Sebuah tulisan ilmiah yang dipublish di jurnal Global Dialog terbitan musim semi tahun ini menantang otak saya: Goodbye to Good Governance?  Kajian itu mempertanyakan peran para donor, sponsor atau siapa saja yang telah mengakibatkan gagalnya pengawasan dan tentu saja gagalnya melahirkan pemimpin yang terbaik.

Bahwa benar setiap orang memiliki calon dan preferensi terhadap orang yang dijagokan tentu tidak dapat dihindarkan.  Namun saat melakukan pemeriksaan, seseorang yang dapat mendengarkan \”Suara Tuhan\” hanya akan memohon petunjuk Tuhan dengan mengosongkan segala kepentingannya sehingga ia bisa bertindak dengan jujur dan hati nurani.  Oleh karena itulah semua terpulang pada hati nurani masing-masing.  Bila Anda menghendaki perubahan dan ingin tidur enak, maka bekerjalah dengan nurani dari sebuah kertas kosong yang ditulis dengan penuh kesungguhan.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/429944/34/
Mirror
http://rumahperubahan.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=112&Itemid=57

Sebarkan!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *